Hai beb, aku Eri. Aku seorang ibu rumah tangga biasa, yang punya mimpi luar biasa yaitu menghasilkan uang sambil rebahan. Wekawekaweka.
Baru aja aku selesai sarapan. Pake sepotong roti tawar yang dicelupkan ke susu putih merk Ultra Milk full cream. Sarapan hari ini simpel aja. Aku nggak masak, karena belum bisa bergerak normal. Maklum, kemarin pagi aku mengalami kecelakaan. Kecelakaannya nggak parah, kok. Alhamdulillah. Aku hanya mengalami memar di pinggang kiri dan lecet-lecet di kaki kiri. Selebihnya, seluruh tubuhku baik-baik aja. Hatiku baik dan saldoku juga baik. 😁 Alhamdulillah.
Aku nggak mau membahas bagaimana kecelakaan itu terjadi karena aku sudah ikhlas dan nggak mau mengingatnya. Yang mau aku ingat justru pelajarannya aja. Dan pelajarannya bakal kubahas di tulisan ini.
Oke, kita mulai dulu dari judul di atas yah, beb. Ada apa dengan judul UANG. HARAPAN. MAKAN? Rasanya seperti hidupku terlalu duniawi yang hanya memikirkan uang dan makan semata. Hehehe. Tapi justru itulah alasan kenapa tulisan ini penting untuk kamu simak sampai tuntas.
UANG

Jauhhh di kehidupanku yang lampau, ketika aku masih ingusan dan makan masih blepotan…ada seorang anak tetangga yang hampir tiap hari dibentak Emaknya kalo makan nggak habis.
Emaknya bilang: “Lu pikir cari uang gampang? Cari uang tuh susah!!!! Makanya makan diabisin!!! Jangan dibuang-buang makanan tuh. Nyusahin gua aja lu jadi anak!!!”
Ketika itu aku masih tinggal di bilangan Jakarta. Jadi bayangin suara emak itu ngebentak anaknya dengan logat betawi yang cukup cempreng dan nusuk di telinga. Setiap tanda seru yang kutulis di atas itu, saat itulah nada si Emak akan meninggi (cenderung teriak) dan panjang. Aku yang bukan anaknya aja pusing mendengar perkataannya itu. Apalagi anaknya. Apalagi terjadi setiap hari.
— Sementara di keluargaku —
Keluargaku juga bukan keluarga kaya. Keluarga kami biasa aja yang lebih tepatnya cenderung miskin. Tapi nggak pernah sekalipun Mama membentakku, apalagi sampai mendoktrin ‘cari uang itu susah’ seperti tetangga sebelah.
Mungkin dari kondisi lingkungan yang nggak baik (menurut Mamaku) itu, Mama memutuskan untuk mengajak kami sekeluarga pindah ke Jogja. Meskipun aku yakin bukan itu alasan satu-satunya keluarga kami pindah. Tapi, betapa kagetnya aku ketika kami pindah, lingkungan baru kami ini jauhhhh lebih baik dan lebih tenang. Jarang sekali kudengar orang Jogja marah dengan teriak-teriak ke anaknya. Bahkan jarang kudengar orang-orang berbicara kasar. Intinya, lingkunganku yang baru membuatku betah dan terasa lebih nyaman.
Hingga suatu hari Mama bilang begini:
“Mama nggak mau kamu mikir kalo cari uang itu susah. Cari uang itu gampang asal kamu jeli melihat peluang. Mungkin saat ini Mama belum jeli melihat peluang, tapi pasti ntar anak Mama bakal lebih cerdas dan jeli melihat peluang di masa depan. Kamu bisa coba segala hal. Terus pupuk harapanmu ya, Nak. Never say never.”
Mama memang suka menyelipkan sedikit bahasa Inggris saat menasehatiku.
Sewaktu muda, Mama termasuk anak ‘gaul’ di jamannya. Banyak yang membuatku berkesimpulan seperti itu. Salah satu contohnya: Mama lebih suka mendengarkan lagu-lagu bahasa Inggris, sementara emak-emak di sekitarku lebih sering mendengarkan lagu dangdut sedih. Bukan berarti lagu Indonesia nggak ada yang bagus, yah. Bukan berarti juga lagu dangdut itu buruk.
Mama juga sering dengerin lagu-lagu lokal. Tapi selama lagunya punya lirik positif dan nggak mendayu-dayu, Mama akan dengerin. Selebihnya, nggak. Tolok ukur ‘gaul’ pada jaman itu ya salah satunya nggak ikutan arus, beb.
Bahkan pernah suatu ketika saat aku masih duduk di kelas 2 SD, Mama kedatangan teman lamanya (cewek). Aku nggak sengaja menguping pembicaraan mereka. Sepanjang obrolan, mereka saling memanggil ‘Jek’ dimana kata ini mungkin akan sama dengan panggilan ‘sis’ atau ‘beb’ di jaman sekarang. Lalu terselip kata-kata asing di antara obrolan mereka. Yang kelak nantinya aku tau bahwa itu bahasa Inggris juga. Hahahah.
Maka dari itulah kadang Mama menyelipkan sedikit kata atau kalimat berbahasa Inggris saat ada kesempatan. Kalimat ‘Never say never’ itulah contohnya. Dimana kelak bertahun-tahun kemudian ada penyanyi bernama Justin Beiber yang mengeluarkan lagu berjudul itu. Makanya kaget banget aku ketika mendengar judul lagunya. Jadi inget Mama….hiks.
Dari Mama aku belajar …’bahwa doktrin orangtua bisa jadi faktor utama yang memengaruhi kesuksesan seorang anak dan cara pemikiran anak di masa depan.’ Bisa saja saat ini banyak orang yang sudah dewasa merasa gagal dan kesulitan mencetak uang…ya karena doktrin orangtua di masa kecilnya.
—
Karena saat ini aku sudah menjadi seorang ibu, maka aku akan lebih berhati-hati lagi mendoktrin anakku…terlebih tentang uang.
Thanks Ma….I will never forget your words (aku nggak akan pernah lupa perkataan Mama). Terimakasih tidak mendoktrin buruk tentang uang di masa lalu, sehingga kelak aku nggak merasa benar-benar kesusahan saat harus mencari uang sendiri.
HARAPAN

Seperti yang sudah kutuliskan di atas bahwa salah satu nasehat Mama untukku adalah agar aku terus memupuk harapan dan jangan menyerah pada apapun yang kuharapkan.
Kalo nggak salah ingat, pertama kali Mama mengajakku ngobrol secara ‘dewasa’ tuh ketika aku kelas 3 atau 4 SD. Antara itulah. Maksudku, sebelumnya Mama selalu pemperlakukanku selayaknya anak kecil yang ‘belum cukup umur’ ketika membahas sesuatu. Misalnya, pembahasan tentang pembalut. Sebelumnya aku pernah bertanya kenapa cewek pakai pembalut (karena aku sering melihat jajaran pembalut di rak toko). Lalu Mama menjawab sekenanya. Tapi setelah aku kelas 3 atau 4 SD itu, setiap pertanyaanku dijawabnya dengan detail, ilmiah dan masuk akal.
Tentang pembalut tadi contohnya: Mama menjelaskan bahwa pada dasarnya wanita akan mengalami hal yang sama. Beranjak dewasa. Nah, proses dewasa seorang cewek itu dimulai ketika dia berdarah (menstruasi).
Mama akan menjelaskan detail proses menstruasi seperti apa. Beberapa orang mengalami kesakitan saat menstruasi berlangsung, seperti yang Mamaku alami. ‘Lalu Mama meneunya “Perempuan yang menstruasi itu bagus. Karena darah itu mengandung kotoran yang harus dikeluarkan tubuh. Makanya disebut darah kotor. Menstruasi akan berhenti ketika sudah menjadi nenek di usia 50 tahun-an.”
Panjang lebar Mama menjelaskan.
Tapi lagi-lagi, belio ini selalu menyelipkan sebuah kalimat nasehat di setiap kesempatan ngobrolnya denganku.
“Biasanya kalo Mamanya sakit pas mens begini, ada kemungkinan anak ceweknya juga ada keturunan merasakan sakit juga tuh mens-nya. Besok kalo kamu sakit juga, pokoknya yang sabar aja ya. Dinikmati. Berharap aja besok kalo udah punya anak nggak akan mengalami sakit mens lagi. Pokoknya dalam setiap kesakitan yang kamu rasa, jangan berhenti berharap ya, Nak. Berharap tetap sehat, berharap cepat sembuh. Pokoknya if there is a will, there is a way (selama ada keinginan, di situ pasti ada jalan).” Panjang lebar belio menjelaskan padaku.
Kadang aku bertanya-tanya mengapa ibu-ibu tetangga kalo jelasin ke anaknya nggak seperti itu. Malah kebanyakan mereka cenderung mengalihkan pembicaraan dengan jawaban semacam ini: ‘Halah kamu belum waktunya tau. Besok juga ngerti sendiri.’
Nggak ada yang salah, sih. Semua didikan itu pasti punya tujuan yang baik. Saat itu aku hanya bertanya-tanya mengapa Mamaku nggak ikut ‘arus’ aja seperti ibu-ibu lainnya. Mengapa belio itu mendidikku dengan cara seperti itu. Sebenarnya aku pengen banget menanyakan hal ini pada Mama…tapi belum sempet karena keburu belio meninggal. Hiks.
Singkat kata, meskipun ada beberapa kendala di tengah kehidupan kami saat itu, aku bersyukur dengan apa yang telah ditanamkannya padaku. Dan sampai hari ini, Alhamdulillah aku bisa menerapkan apa yang diajarkannya itu. ‘Tumbuhkan harapan dan jangan menyerah dengan keadaan. Karena selama ada niat, di situ pasti ada jalan.
MAKAN

Beb, kamu pernah nonton film yang berjudul Eat, Pray, Love? Bagi yang belum tau, itu adalah film romantis yang dibintangi oleh Julia Robert.
Cerita ini tuh sebuah buku memoir (catatan pribadi tentang sebuah perjalanan) Elizabeth Gilbert. Jadi, ini film berdasar kisah nyata penulisnya yang akhirnya di-film-kan dengan sangat keren menurutku yah, beb.
Ceritanya tentang seorang perempuan yang sejatinya mencari ‘makna hidup dan cinta’ setelah perceraiannya. Setelah bercerai itulah dia melakukan perjalanan keliling dunia dan salah satunya mengunjungi Bali. Dari perjalanan yang dia lakukan, dia mendapat banyak pengalaman, petualangan sekaligus pencerahan tentang makna hidup dan bagaimana ia akhirnya nggak takut membina sebuah hubungan lagi.
Tapi aku nggak sedang membicarakan film itu yah, beb. Maksudku, aku terinspirasi dengan film itu.
Betapa kerennya ketika sebuah kisah hidup seseorang (yang mungkin kita anggap sebagai kesialan atau kesedihan dari perceraian itu) bisa menjadi sebuah kisah yang menginspirasi banyak orang.
Karena setiap orang pasti punya cerita hidup yang berbeda, kan? Dan setiap kisah hidup seseorang bisa menjadi pelajaran bagi orang lain.
Nah, aku pun demikian, beb. Mungkin bagi orang lain aku hanyalah seorang IRT (Ibu Rumah Tangga) yang mata duitan dan doyan banget makan. Tapi mungkin apa yang aku sukai ini bisa menjadi ladang inspirasi buat kamu yang memang sefrekuensi denganku.
Ngomongin makan, makanan favoritku adalah mie dan minuman favoritku coklat dan matcha. Aku punya mimpi besar untuk bisa memiliki sebuah kedai mie dan coklat suatu saat nanti.
Jika film Julia Robert berkisah tentang seorang perempuan yang melakukan perjalanan keliling dunia sebagai bentuk penyembuhan diri dari luka perceraian, maka aku ingin melakukan perjalanan ‘pemikiran’ sambil tetap memelihara harapan agar bisa membahagiakan diri sendiri. Yaitu dengan tetap ingin mencetak uang sambil rebahan. Ketika uangku sudah cukup, aku ingin membuka kedai mie dan coklat sendiri. Lalu aku bisa buka banyak cabang…dan akhirnya aku bisa berkeliling dari cabang ke cabangku itu, beb. 🤑🤑
Yaudah, aminin aja dulu yah, beb. Wekawekaweka.
Kembali lagi ke paragraf pertamaku di atas. Bahwa aku baru mengalami kecelakaan. Luka fisik nggak seberapa. Tapi untuk biaya pengobatan tanpa BPJS dan biaya bengkel…itu seperti luka tapi tak berdarah. Wekawekaweka.
Tapi setelah selesai menulis artikel ini, aku menjadi banyak belajar. Belajar untuk selalu bersyukur bahwa apapun kesedihan yang kualami, aku akan selalu mendapat kebahagiaan setelahnya. Bersyukur aku nggak terluka parah. Bersyukur aku masih bisa ngetik, masih bisa merasakan makan enak. Bersyukur aku masih bisa mencetak uang. Dan bersyukur masih bisa bisa mengingat nasehat Mamaku. Lebih bersyukur lagi, jika akhirnya tulisan ini bisa menginspirasi kamu, beb.
Salam uang!
Leave a Reply